Kiprah Musdah Mulia

Share to Facebook Share to Twitter Share to Google Plus

A Courageous Woman adalah istilah paling tepat bagi sosok Musdah Mulia. Dijuluki perempuan pemberani karena dia adalah sosok muslimah yang mau dan berani bersuara, yang menjadikan Islam sebagai ‎komunitas yang teduh, dialogis, dan inklusif. Berbeda dengan banyak aktifis, Musdah selalu bertarung tepat di tengah medan pertempuran, menohok isu hitam-putih-abu-abu tanpa ragu dan tidak pernah berputar-putar atau lari dari inti masalah. Sangat tidak mudah menjadi Musdah yang berdiri di garda depan, terbuka untuk dijadikan sasaran apa pun, dan sudah berada dalam posisi yang tidak memungkinkan untuk mundur.

Menjadi peneliti di pusat prostitusi Teledju, Pekanbaru, 2003

Menjadi peneliti di pusat prostitusi Teledju, Pekanbaru, 2003

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Sebagai seorang akademisi, Musdah tidak berkutat di menara gading  perguruan tinggi, dia lebih banyak menghabiskan waktunya sebagai aktifis memperjuangkan hak-hak asasi kelompok perempuan serta kelompok rentan dan minoritas di tengah-tengah masyarakat. Dia adalah contoh akademisi yang mau turun gunung menjadi aktifis dalam memperjuangkan kelompok minoritas. Meski berhadapan dengan kekuasaan yang mencoba menghambatnya ia tak pernah gentar. Musdah adalah sarjana dan aktifis perempuan yang bersikap kritis dan berani menantang arus mayoritas. Meskipun beresiko dihujat oleh banyak orang, ia tak pernah surut memperjuangkan apa yang dianggap benar. Bahkan, Musdah bukan hanya sekedar sebagai seorang sarjana dengan artikulasi yang jernih, tapi juga seorang intelektual yang berani dan tangguh dalam mempertahankan argumen-argumennya. Di tengah miskinnya pembelaan terhadap kaum perempuan Islam, Musdah berdiri paling depan membela hak-hak kaumnya dan meluruskan pandangan-pandangan keliru tentang perempuan.

Walau demikian, berbeda dengan umumnya aktifis feminis, meski sangat berani, Musdah dalam kesehariannya tampak ramah dan lembut, bahkan terkesan sangat feminin. Namun, dia tak pernah gentar dan tidak mengenal kompromi menghadapi siapa pun demi memperjuangkan ide-ide keislaman yang humanis dan ramah perempuan, serta akomodatif terhadap nilai-nilai kemanusiaan. Dia tak gentar berdiri paling depan mengusung perubahan kebijakan publik yang diskriminatif terhadap kelompok rentan dan minoritas. Semua itu dilakukannya dalam konteks mewujudkan Islam yang ramah dan rahmatan lil alamin sekaligus membangun bangsa Indonesia yang menjunjung tinggi nilai-nilai demokrasi, pluralisme dan HAM, berdasarkan Pancasila, UUD 1945 dan berpijak pada prinsip Bhinneka Tunggal Ika.

Selengkapnya...