Sejenak Bersama Musdah Mulia

Share to Facebook Share to Twitter Share to Google Plus

Apa yang harus Anda ketahui tentang sosok penulis buku Muslimah Sejati ini?
Ada banyak cara orang melihat terhadap orang lain. Sebagai publik figur kenamaan di Indonesia, penulis buku ini, tentu bisa dilihat dari banyak sisi. Dari pandangan orang-orang yang objektif melihat sosoknya, Bu Musdah (demikian banyak orang memanggilnya) dianggap sebagai muslimah genius dalam bidang ilmu pengetahuan agama. Ia seorang pemikir, penulis dan pejuang ajaran Islam yang mendedikasikan dirinya untuk mengangkat martabat kaum hawa sesuai ajaran Islam.

Tetapi di balik anugrah atas prestasinya tersebut,  ia pun harus sering dilihat dari sisi negatif dari orang-orang yang berseberangan pemikiran. Cobalah masuk ke situs google.com. Ketik “Musdah Mulia.” Di sana akan banyak ditemukan pandangan miring tentang dirinya. Ia dituduh ngawur, antek Amerika, antek Zionis, bahkan dijuluki ratu sepilis (singkatan dari sekuler, pluralis, dan liberalis). Ada banyak catatan buruk tentang  dirinya, tetapi itu semua ada pada pandangan golongan Islam tertentu yang memang tidak memiliki sikap bijak dalam melihat.

Salah paham? Sebagian ya, sebagian justru karena kesengajaan. Saya melihat ada satu cara pandang khusus dari kelompok Islam radikal yang kurang berakhlak itu saat berhadapan dengan perbedaan pandangan. Setiap kali mereka menghadapi perbedaan pandangan, mereka selalu merasa dirinya paling benar, paling Islami dan karena itu pihak luar yang berseberangan dianggap salah dan bahkan kafir.

Posisi Ibu Musdah yang tidak berada dalam satu lingkaran dengan para pengecam itu membuat dirinya harus selalu bersabar. “Saya sering tertawa membaca tulisan-tulisan yang mendiskreditkan saya. Media-media Islam seperti Sabili dan media sejenisnya sudah punya cara pandang sendiri sehingga saya harus menjadi orang yang terus dikecam,” ujarnya sambil tertawa lepas tanpa beban.

Terkait dengan isu-isu yang beredar tersebut ia memang tidak ambil pusing. “Itu risiko berjuang,” ujarnya. Cara pandang para pengecam yang sudah apriori itu  karena mereka berdebat bukan untuk menghasilkan mufakat atau tukar pendapat, melainkan untuk urusan kalah menang. Salah-benar menjadi nomor belakangan. Karena kepentingannya kemenangan, mereka agresif menyerang pandangan Bu Musdah dengan cara koruptif, yakni mengutip penggalan-penggalan pemikiran Bu Musdah kemudian diolah sebagai bahan untuk mendiskreditkan dirinya. Tak heran kalau kemudian banyak orang yang tidak memiliki nalar cerdas menjadi korban salah persepsi.

“Mereka lucu. Sebelum ketemu saya mereka melihat saya ini sosok yang bagaimana gitu…..begitu ngobrol dan tahu diri saya mereka berubah pikiran. Banyak yang minta maaf karena apa yang mereka pikirkan berbeda dengan yang ia lihat secara langsung,” ujarnya kepada teman-teman redaksi saat berkunjung ke Kantor Penerbit Nuansa Cendekia awal Mei 2011 lalu.
Penuturan tersebut memang wajar. Bu Musdah yang dianggap “penganjur kesesatan” oleh kelompok Islam berpikir sempit itu akan memang nampak berbeda ketika kita bisa memahaminya dari sudut yang dekat, berdialog bersama dan mau mendengar argumentasi dan dalil-dalil yang dipakainya.

Mengenal sosok penulis buku ini  agaknya memang perlu dengan kepala dingin. Ia tak perlu dilihat secara berlebihan sebagai sosok yang mengancam Islam. Ia seorang pengajar, pemikir dan seorang muslimah yang “normal” sebagaimana muslimah-muslimah yang kita kenal dari kalangan santri tradisional. Ia rajin beribadah, punya jiwa sosial, dan semangat untuk mendekatkan diri kepada Allah Swt. Satu hal yang mengagumkan bahwa dirinya rajin berpuasa rutin mengamalkan tradisi puasa Nabi Daud (sehari puasa sehari tidak)  sejak lama.”Saya suka puasa bukan membayar hutang puasa ramadan, tapi ini kebiasaan sejak kecil di keluarga kami agar kami lebih mudah mendekatkan diri pada Allah,” tuturnya tanpa bermaksud pamer.

Mereka yang gemar mengecam Bu Musdah barangkali tidak melihat bagaimana ia tetap taat shalat lima waktu, menjalankan peran sebagai ibu seperti kebanyakan ibu-ibu muslimah di kalangan pesantren, memiliki ikatan perkawinan yang baik dengan suaminya yang sama-sama hidup dalam kultur Islam tradisional dan memiliki semangat untuk terus berbakti mengajar secara konsisten sepanjang karir hidupnya.

Para pengecam sering mengatakan Bu Musdah hanya cari sensasi dan tidak memiliki pijakan ilmu pengetahuan yang kuat. Ini adalah cara pandang khas para pengklaim kebenaran yang sangat egois. Mereka kebanyakan hanya mahir menyitir ayat-ayat, tetapi lupa bagaimana ayat itu harus dikaji dan ditafsir. Tetapi, sekali lagi,-karena urusan kalah menang membuat kelemahan-kelemahan “musuh” Bu Musdah tak hendak mengubah pandangannya.

Mengenal Siti Musdah Mulia dari dekat, sangat berbeda dengan apa yang diperkenalkan orang-orang Islam radikal yang egois. Dengan kiprah dan karyanya, ia adalah aset bangsa yang sangat penting didengarkan pendapatnya, direnungkan penafsiran-penafsiran ke-Islamannya, dan dari sana kita akan mendapatkan kesegaran berpikir.

Dengan cara itulah kita tidak hanya mendapatkan siraman ruhani yang baik, melainkan juga mendapatkan semangat kebajikan untuk hidup dalam keagamaan yang toleran dan mendekatkan diri kita kepada upaya pencapaian rahmat ilahi.

[Faiz Manshur] Sumber: Buku Muslimah Sejati. Siti Musdah Mulia, Penerbit Marja, Juli 2011.