Oleh: Prof. Dr. Musdah Mulia, MA

Sekolah Tinggi Agama Buddha Nalanda, Jakarta Timur melaksanakan seminar betema: Moderasi Beragama untuk Indonesia Bahagia, tanggal 11 Mei 2019.
Bagi saya ini kesempatan paling baik untuk mengajak seluruh peserta seminar, khususnya civitas akademi, terutama kalangan mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi, dari berbagai komunitas agama untuk mengedepankan prinsip beragama secara moderat, menghindari sikap dan perilaku ekstrem dalam beragama.

Sebagai bangsa yang besar, harusnya kita sadari bahwa para pendiri bangsa ini telah dengan susah payah berjuang membangun negeri tercinta, Indonesia. Kini giliran kaum muda berjuang mempertahankannya dari ronrongan kaum ekstremis dan radikalis. Fatalnya, kelompok pengacau itu seringkali menggunakan label dan simbol-simbol agama dalam aksi-aksi makar mereka sehingga sering membuat sebagian masyarakat gamang untuk bertindak.

Mengapa penting moderasi beragama dikembangkan di Indonesia? Bangsa Indonesia sangat kompleks dan majemuk, terdiri dari beragam suku, bahasa, adat istiadat, budaya, agama dan aliran kepercayaan sehingga membutuhkan sikap moderat dan pluralisme.

Moderasi beragama menghendaki pemahaman agama yang sejuk dan mengedepankan nilai-nilai kemanusiaan universal. Moderasi beragama mengetengahkan pandangan keagamaan yang kompatibel dengan nilai-nilai luhur Pancasila dan prinsip bhinneka tunggal ika, dan yang paling konkret adalah dengan sikap moderasi beragama diharapkan dapat menghindari pemahaman dan pengamalan agama yang ekstrem, fanatik atau berlebihan.

Moderasi beragama adalah sebuah upaya pengarusutamaan dan penguatan toleransi yang aktif. Upaya membangun strategi yang tepat dalam menciptakan kerukunan umat beragama di Indonesia. Upaya moderasi tersebut mencakup upaya mendorong dan mengarahkan seluruh umat beragama untuk hidup rukun dalam bingkai teologi yang ideal demi menciptakan harmoni dan kebersamaan. Termasuk di dalamnya, upaya pengembangan wawasan multikultural bagi segenap unsur dan lapisan masyarakat, khususnya di kalangan generasi muda. Dan yang juga tidak kurang pentingnya adalah upaya peningkatan dialog dan kerja sama intern dan antar-umat beragama dengan pemerintah dalam pembinaan kerukunan umat beragama.

Lalu, apa yang konkret dapat dilakukan? Di antaranya, penting bagi umat beragama, khususnya kalangan muda mempromosikan nilai-nilai universal agama, seperti penegakan nilai-nilai HAM dan perlindungan terhadap kelestarian dan keasrian lingkungan. Upaya melawan korupsi dan segala macam bentuknya penting selalu dilakukan karena perbuatan korupsi menghancurkan masa depan bangsa. Mendorong dan mendukung penegakan keadilan sosial di dalam komunitas agama masing-masing. Memanfaatkan dan menggunakan organisasi dan institusi lintas agama-agama. Mengetahui dan menghargai perbedaan di dalam dan di antara agama-agama dan keyakinan dengan meningkatkan kualitas pendidikan agama, baik pada agama itu sendiri maupun pada hubungannya dengan agama lain untuk penguatan dialog lintas agama.

Penting juga mempromosikan kesetaraan gender dan memahami peran penting perempuan dalam membangun perdamaian dan dialog lintas agama. Menjaga hak-hak dan kebebasan beragama melalui legislatif, serta memperkuat gotong-royong dengan membantu satu sama lain (agama/komunitas) dalam ikatan persaudaraan sebagai satu bangsa dan satu tanah air.

Jika moderasi beragama ini dikembangkan secara sungguh-sungguh oleh seluruh komponen bangsa, utamanya kalangan muda, akan berdampak sangat positif terhadap upaya mewujudkan keadilan, kemajuan, kesejahteraan dan kebahagiaan bangsa. Sebab, kondisi dan situasi moderat dalam beragama akan mencegah timbulnya pertikaian, konflik, kekerasan, dan peperangan. Intinya, sikap toleran dan moderat menumbuhkan solidaritas dan ikatan persaudaraan sebangsa dan setanah air, dan pada gilirannya nanti menumbuhkan kepekaan untuk menegakkan nilai-nilai kemanusiaan. Sebab, agama sepenuhnya untuk kemanusiaan.