SuaraKita.org – Bulan April identik dengan perayaan Hari Kartini. Kali ini Redaksi Suara Kita mengajak pembaca  merefleksikan perjuangan Raden Ajeng Kartini lewat pandangan Prof. Dr. Siti Musdah Mulia, MA, salah satu feminis Muslim terkemuka di Asia, penerima penghargaan Yap Thiam Hien 2008, Dosen Pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah.

Suasana pertemuan sangat santai di Rumah Makan Sate Senayan Salemba dan sempat ditemani oleh Gadis Arivia (Jurnal Perempuan). Berikut petikan hasil wawancara Redaksi Suara Kita dengan Siti Musdah Mulia tentang Refleksi Peringatan Hari Kartini:

“Gerakan Kartini, yang mengemuka dari gagasan Kartini adalah pentingnya literasi, soal membaca. Dengan membaca wawasan orang akan terbuka. Perempuan yang membaca akan terbuka wawasannya dan tidak akan menerima segala bentuk ketimpangan dan ketidakadilan gender,” kata pembuka tamu Suara Kita edisi kali ini.

Hampir dua abad Kartini omong tentang pentingnya literasi, apa yang di lakukan pemerintah? Tidak banyak. Perpustakaan kita tidak punya, budaya baca tidak tumbuh dalam masyarakat,  karena kultur kita tidak menuju pada kultur membaca. Di keluarga kita lebih banyak hidup jauh dari buku. Dengan tidak berkembangnya kultur literasi inilah gerakan perempuan tidak menemukan momentumnya. Karena kita hanya bicara, tetapi tidak disertai kemampuan membaca karya-karya perempuan. Bagaimana karya-karya tentang kesetaraan dan keadilan gender itu tidak sampai ke masyarakat secara luas.

Sejak 65 sampai Orde Baru terjadi distorsi atas perjuangan Kartini, orang hanya mengenal kebaya dan kondenya saja. Di Masa Orde Baru menjadi semacam gerakan Dharma Wanita, di mana kekuasaan menjadi bayangan dari Kartini. “Jadi kalau kamu mau menjadi Kartini yang baik ya harus jadi perempuan yang mau bekerja di dunia domestik,” paparnya.

Setelah era Reformasi, ada kebijakan Otonomi Daerah tetapi justru di Aceh atas nama Otonomi Daerah sejumlah kebijakannya malah meminggirkan perempuan. Sejumlah kebijakan menjadikan perempuan sebagai objek. Jika di Aceh atas nama agama, di Yogya atas nama adat, sedangkan di Papua atas nama Otsus (Otonomi Khusus) tapi kebijakannya sama meminggirkan perempuan.

Orang-orang belum tahu betul apa sebenarnya esensi dari  perjuangan Kartini yakni membuka masyarakat dengan mengembangkan literasi. Fakta yang terlihat angka buta huruf masih tetap tinggi, angka melek pendidikan BPS merilis hampir 60 persen masyarakat kita baru tamatan SD. Jadi belum banyak yang berubah.

“Pekerjaan Rumah kita adalah pertama mengembangkan literasi melalui upaya kultur. Menurut Kartini dengan membaca orang menjadi kritis, dan itu yang diinginkan Kartini. Karena itu pendidikan kritis menjadi hal yang sangat penting untuk mengubah wawasan masyarakat. Nah, pendidikan kritis itu harus mulai dari keluarga. Dan itu yang tidak terjadi. Bagaimana menanamkan pendidikan kritis kalau orangtuanya tidak paham apa itu pendidikan kritis. Kedua adalah perubahan dalam struktur. Ketiga, ini yang menjadi bidang saya yaitu perubahan dalam interpretasi agama,” tuturnya.

Selanjutnya, “Kalau dulu kolonialisme berupa penjajahan Belanda sekarang berupa korporasi raksasa yang tidak manusiawi, mempekerjakan buruhnya tanpa rasa kemanusiaan dengan gaji murah. Kolonialisme datang dalam bentuk birokrasi yang tidak ramah terhadap perempuan. Kolonialisme juga berwujud dalam bentuk pemuka-pemuka agama yang patriarkhal. Jadi tetap saja kita menghadapi kolonialisme di mana-mana.”

Gerakan perempuan di Indonesia hanya di elit saja. Artinya hanya di kalangan aktifis, hanya di kalangan terpelajar. Itu belum menjadi gerakan rakyat. Sampai sekarang belum menjadi gerakan rakyat.

”Saya melihat gerakan perempuan masih ellitis karena masih diperjuangkan oleh kelompok akademisi, kelompok aktifis. Dan itu dengan segregasi. Misalnya kelompok buruh memperjuangkan hak-hak buruh, kelompok perempuan tertentu hanya melawan perkawinan dini. Jadi isunyapun masih sangat segregasi. Jadi belum ada isu bersama, meskipun sama gerakan perempuan tetapi berbeda satu sama lain, masih saling gesekan juga satu sama lain. Belum lagi di kalangan kelompok Islam dengan munculnya kelompok fundamentalisme. Memang gerakan perempuan, tapi gerakan perempuan fundamentalisme itu juga berkembang di masyarakat.” kata perempuan kelahiran Bone ini sambil menuangkan teh hangat. (Siti Rubaidah)