Oleh: Musdah Mulia

Ibarat tamu yang berkunjung setiap tahun, bulan Ramadhan sudah di abang pintu. Sebagai umat Islam yang taat, kita harus menyambutnya dengan penuh kegembiraan. Sebab, itulah bulan yang penuh dengan limpahan magfirah, pengampunan dan rahmat serta pembebasan dari api neraka.

Hal teramat penting adalah pada bulan suci ini umat Islam yang beriman diperintahkan untuk berpuasa. Tujuannya, tiada lain agar kita semua menjadi orang-orang yang bertakwa. Puasa adalah ibadah yang mengandung banyak manfaat, manfaat kesehatan, manfaat pembinaan mental dan ruhani serta beragam manfaat lainnya. Namun, Al-Qur’an menyebut tujuan esensial puasa adalah melatih diri menjadi orang yang bertakwa. Pertanyaannya, apa yang dimaksud dengan takwa? Dan bagaimana menjalani puasa agar tujuan menjadi orang yang bertakwa sungguh-sungguh dapat tercapai.

Mari kita mulai dengan membedah makna takwa. Kata takwa berasal dari bahasa Arab taqwa ( تَقْـوَى ). Secara etimologi kata ini merupakan bentuk masdar dari kata ittaqa–yattaqi  ( اتَّقَى- يَتَّقِىْ ), yang berarti ‘menjaga diri dari segala yang membahayakan atau membawa mudharat (kebinasaan). Sejumlah pakar bahasa berpendapat bahwa kata ini lebih tepat diterjemahkan dengan “berjaga-jaga atau melindungi diri dari sesuatu”.

Kata takwa dengan pengertian ini dipergunakan di dalam Al-Qur’an, misalnya pada Q.S. al-Mu’min, 40: 45. Kata ini berasal dari kata waqa–yaqi–wiqayah  ( وَقَى- يَقِى- وِقَايَة ), yang berarti ‘menjaga diri’, ‘menghindari’, dan ‘menjauhi’, yaitu menjaga sesuatu dari segala yang dapat menyakiti dan mencelakakan. 

Penggunaan bentuk kata kerja waqa ( وَقَى ) dapat dilihat, antara lain di dalam Q.S. al-Insan, 76: 11; dan S.Q. ad-Dukhan, 44: 56. Penggunaan bentuk ittaqa  ( اِتَّقَى ) dapat dilihat antara lain di dalam Q.S. al-A‘raf, 7: 96.  Kata taqwa  ( تَقْوَى ) juga bersinonim dengan kata khauf  ( خَوْف ) dan khasyyah  ( خَشْيَة ) yang berarti ‘takut’. Bahkan, kata ini mempunyai pengertian yang hampir sama dengan kata taat. Kata taqwa yang dihubungkan dengan kata ta‘ah  ( طَاعَة ) dan khasyyah  ( خَشْيَة ) digunakan Al-Qur’an dalam surah an-Nur, 24: 52.

Secara terminologi syar‘i (hukum), kata  taqwa mengandung pengertian “menjaga diri dari segala perbuatan dosa dengan meninggalkan segala yang dilarang Allah SWT dan melaksanakan segala yang diperintahkan-Nya”.

Di dalam Al-Qur’an kata ini disebut 258 kali dalam berbagai bentuk dan dalam konteks yang bermacam-macam. Kata itu yang dinyatakan dalam bentuk kata kerja lampau  ditemukan sebanyak 27 kali, yaitu dengan bentuk ittaqa  ( اِتَّقَى ) sebanyak 7 kali, antara lain di dalam surat al-Baqarah, 2: 189;  dalam bentuk ittaqaw  ( اِتَّقَوْا ) sebanyak 19 kali, seperti di dalam surat al-Ma’idah, 5: 93;  dan dalam bentuk ittaqaytunna  ( اِتَّقَـيْتُنَّ ) hanya satu kali, ditemukan di dalam surat al-Ahzab, 33: 32.

Dalam bentuk-bentuk seperti di atas, kata taqwa pada umumnya memberi gambaran mengenai keadaan dan sifat-sifat, dan ganjaran bagi orang-orang bertakwa. Kata taqwa yang diungkapkan dalam bentuk kata kerja yang menunjukkan masa sekarang ditemukan sebanyak 54 kali. Dalam bentuk ini Al-Qur’an menggunakan kata itu untuk: (1) menerangkan berbagai ganjaran, kemenangan, dan pahala yang diberikan kepada orang yang bertakwa, seperti di dalam surat al-‘alaq, 65: 5;  (2) menerangkan keadaan atau sifat-sifat yang harus dimiliki oleh seseorang sehingga ia diharapkan dapat mencapai tingkat takwa, yang diungkapkan bentuk la‘allakum tattaqun (لَعَلَّكُمْ تَتَّقُـوْنَ, semoga engkau bertakwa), seperti di dalam surat al-Baqarah, 2: 183; dan (3) menerangkan ancaman dan peringatan bagi orang-orang yang tidak bertakwa, seperti di dalam surat al-Mu’min­n, 23: 32. 

Kata taqwa yang dinyatakan dalam kalimat perintah ditemukan sebanyak 86 kali, 78 kali di antaranya mengenai perintah untuk bertakwa yang ditujukan kepada manusia secara umum.  Obyek takwa dalam ayat-ayat yang menyatakan perintah takwa tersebut bervariasi, yaitu: (1) Allah sebagai obyek ditemukan sebanyak 56 kali, misalnya pada Q.S. al-Baqarah, 2: 231  dan Q.S asy-Syu‘ara’, 26: 131; (2) Neraka sebagai obyeknya dijumpai sebanyak 2 kali, yaitu pada Q.S. al-Baqarah, 2: 24 dan Q.S. Ali Imran 3: 131; (3) Fitnah/siksaan sebagai obyek takwa didapati satu kali, yaitu pada Q.S. al-Anfal, 8: 25; (4) Obyeknya berupa kata-kata  rabbakum  ( رَبَّكُمْ ), al-lazi khalaqakum  ( الَّذِيْ خَلَقَكُمْ ), dan kata-kata lain yang semakna berulang sebanyak 15 kali, misalnya di dalam Q.S. al-Hajj, 22: 1.

Dari 86 ayat yang menyatakan perintah bertakwa pada umumnya (sebanyak 82 kali) obyeknya adalah Allah, dan hanya 4 kali yang obyeknya bukan Allah  melainkan neraka, hari kemudian dan siksaan. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa ayat-ayat yang berbicara mengenai takwa di dalam Al-Quran pada dasarnya yang dimaksudkan adalah ketakwaan kepada Allah SWT.

Perintah itu pada dasarnya menunjukkan bahwa orang-orang yang akan terhindar dari api neraka dan siksaan hari kemudian nanti adalah orang-orang yang bertakwa kepada Allah SWT.

Kata taqwa yang dinyatakan dalam bentuk masdar,  ditemukan di dalam Al-Qur’an sebanyak 19 kali. Yang diungkapkan dalam bentuk tuqat  (تُقَاة ) sebanyak 2 kali dan dalam bentuk taqwa ( تَقْوَى ) sebanyak 17 kali. Dalam bentuk ini kata taqwa pada umumnya digunakan Al-Qur’an untuk: (1) menggambarkan bahwa suatu pekerjaan yang dilakukan harus didasarkan atas ketakwaan kepada Allah SWT, seperti di dalam surat al-Hajj, 22: 37; dan (2) menggambarkan bahwa takwa merupakan modal utama dan terbaik untuk menuju kehidupan akhirat.

Takwa kepada Allah merupakan sesuatu yang harus dilaksanakan. Takwa kepada Allah, menurut Muhammad ‘Abduh, adalah menghindari siksaan Tuhan dengan jalan menghindarkan diri dari segala yang dilarang-Nya serta mengerjakan segala yang diperintahkan-Nya. Hal ini, lanjutnya, hanya dapat terlaksana melalui rasa takut dari siksaan yang menimpa dan rasa takut kepada yang menjatuhkan siksaan, yaitu  Allah. Rasa takut itu pada mulanya timbul dari keyakinan tentang adanya siksaan.

Perintah dan larangan Allah dapat dikategorikan kedalam dua kelompok, yaitu (1) perintah dan larangan  yang berkaitan dengan alam raya yang disebut hukum-hukum alam, seperti dinyatakan di dalam Q.S. Fushilat, 41: 11, misalnya, api membakar atau bulan berputar mengelilingi bumi; dan (2) perintah dan larangan yang berkaitan dengan pelaksanaan ajaran agama yang ditujukan kepada manusia, seperti perintah melakukan salat yang dinyatakan di dalam Q.S. al-Isra, 17: 78.

Kumpulan dari perintah dan larangan ini dinamakan hukum-hukum syariat. Sanksi pelanggaran terhadap hukum-hukum alam akan diperoleh di dunia, sedang sanksi pelanggaran terhadap hukum-hukum syariat akan diperoleh di akhirat. Jelas bahwa meski melaksanakan ibadah puasa merupakan kewajiban bagi orang-orang beriman, namun implementasinya dalam kehidupan sosial tidak boleh dipaksakan.

Pemerintah dan masyarakat tidak boleh memaksa orang berpuasa, sebaliknya juga tidak boleh memaksa orang lain agar menghargai mereka yang berpuasa, misalnya dengan larangan membuka warung dan restoran, larangan berjualan makanan dan minuman dan berbagai larangan yang tidak masuk akal lainnya.

Tentu saja, pemerintah dan masyarakat boleh menghimbau dengan cara-cara yang santun agar masyarakat menjalankan ibadah puasa dan menghormati mereka yang berpuasa. Cara-cara persuasif dan bijaksana sangat dianjurkan dalam Islam. Islam adalah agama rahmat, agama yang menebarkan kedamaian, ketenteraman dan kesejukan kepada semua manusia, bukan hanya terbatas pada umat Islam. Itulah yang disebut agama Islam yang rahmatan lil ‘alamin.

Dengan demikian ketakwaan mempunyai dua sisi, yaitu sisi duniawi dan sisi ukhrawi. Sisi duniawi, yaitu memperhatikan dan menyesuaikan diri dengan hukum-hukum alam, sedang sisi ukhrawi, yakni memperhatikan dan melaksanakan hukum-hukum syariat.

Takwa sebagai melaksanakan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya hanya dapat terwujud oleh dorongan harapan memperoleh kenikmatan surgawi serta rasa takut terjerumus ke dalam neraka. Karenanya, sebagian ulama menggambarkan takwa sebagai gabungan antara harapan dan rasa takut.

Rasa takut di sini bukanlah rasa takut kepada penjahat atau monster. Sebab, Tuhan bukanlah Zat yang harus ditakuti. Harapan dan rasa takut seharusnya muncul dari kecintaan yang mendalam kepada Sang Khalik. Kita seharusnya mencintai Tuhan yang Maha Pencipta. Rasa cinta itu adalah bentuk kekaguman akan kebesaran dan keagungan Tuhan serta kekerdilan kita sebagai ciptaan. Rasa cinta juga merupakan perwujudan terimakasih yang sangat mendalam atas semua anugerah yang dilimpahkan kepada kita sepanjang hayat.

Ketakwaan yang dinyatakan dalam bentuk amal perbuatan jasmaniah yang dapat disaksikan secara lahiriah merupakan perwujudan keimanan seseorang kepada Allah SWT. Iman yang terdapat di dalam dada diwujudkan dalam bentuk amal perbuatan jasmaniah. Oleh sebab itu, kata taqwa di dalam Al-Qur’an sering dihubungkan dengan kata iman ( الإِيْمَان ),  seperti di dalam Q.S. al-Baqarah, 2: 103, al-A‘raf, 7: 96, Ali ‘Imran, 3: 179, al-Anfal, 8: 29, dan surat Muhammad, 47: 36.

Al-Qur’an menyebut orang yang bertakwa dengan muttaqi ( الْمُتَّقِى , jamaknya: muttaq³n, الْمُتَّقِيْنَ ), yang berarti ‘orang yang bertakwa’. Kata tersebut disebut Al-Qur’an sebanyak 50 kali.

Kata ini digunakan Al-Qur’an untuk (1) menggambarkan bahwa orang-orang bertakwa dicintai oleh Allah SWT. dan di akhirat nanti akan diberi pahala dan tempat yang paling baik, yaitu surga, seperti yang diungkapkan di dalam Q.S. ²li ‘Imran, 3: 76 dan ad-Dukhan, 44: 51;  (2) menggambarkan bahwa orang-orang yang bertakwa adalah orang-orang yang mendapat kemenangan, seperti diungkapkan surat an-Naba’, 78: 31; (3) menggambarkan bahwa Allah merupakan pelindung (wali) bagi orang-orang yang bertakwa, seperti diungkapkan di dalam surat al-Jaziyah, 45: 19; dan (4) menggambarkan bahwa beberapa kisah yang terjadi merupakan peringatan dan teladan bagi orang-orang yang bertakwa, seperti yang diungkapkan di dalam surat al-Anbiya’, 21: 48 dan al-Haqqah, 69: 48. 

Al-Qur’an tidak menjelaskan secara rinci siapa yang dimaksudkan dengan istilah itu. Al-Qur’an hanya menyebutkan beberapa cirinya, antara lain  di dalam Q.S. Al-Baqarah, 2: 2–5. Selanjutnya dijelaskan di dalam Q.S. Ali ‘Imran, 3: 132–135.

Ciri-ciri orang bertakwa menunjukkan suatu kepribadian yang benar-benar utuh dan integral, sebagai yang dinyatakan di dalam Al-Qur’an surat alHujurat, 49: 13. Pengunaan kata atqakum  ( أَتْقَاكُمْ ) dalam ayat ini sekaligus menunjukkan bahwa taqwa mempunyai tingkatan-tingkatan. Perbedaan tingkatan tersebut sangat ditentukan oleh kualitas keimanan dan ketaatan seseorang dalam melaksanakan perintah dan meninggalkan larangan Allah SWT.

Orang-orang yang bertakwa diberi berbagai kelebihan oleh Allah SWT, tidak hanya ketika mereka di akhirat nanti, tetapi juga ketika mereka berada di dunia ini. Beberapa kelebihan mereka disebutkan di dalam Al-Qur’an, antara lain (1) dibukakan jalan keluar pada setiap kesulitan yang dihadapinya (Q.S. al-Alaq 65: 2); (2) dimudahkan segala urusannya (Q.S. al-Alaq, 65: 4); (3) dilimpahkan kepadanya berkah dari langit dan bumi, misalnya dinyatakan di dalam Q.S. al-A‘raf, 7: 96; (4) dianugerahi furqan  ( فُرْقَان ), yakni petunjuk untuk dapat membedakan yang hak dan batil (Q.S. al-Anfal, 8: 29; dan (5) diampuni segala kesalahannya dan dihapus segala dosanya (Q.S. al-Hadid, 57: 28 dan al-Anfal, 8: 29).

Akhirnya, mari kita saling mengingatkan untuk melaksanakan ibadah puasa dengan sebaik-baiknya dan semoga kita semua menjadi orang yang bertakwa seperti diinginkan Allah, Sang Pencipta, amin.